
Yogyakarta, 28 Juli 2026 – Dosen dan peneliti Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir. Andri Prima Nugroho, S.T.P., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., menjadi salah satu plenary speaker pada The 36th Malaysian Society of Plant Physiology Conference (MSPPC 2026). Konferensi internasional ini diselenggarakan oleh Malaysian Society of Plant Physiology (MSPP) pada 28–30 Juli 2026 di M Roof Hotel, Ipoh, Perak, Malaysia.
Mengangkat tema “Plant Physiology for Sustainable and Climate-Smart Future”, MSPPC 2026 menjadi forum ilmiah bagi peneliti, akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan untuk mendiskusikan perkembangan ilmu fisiologi tanaman serta kontribusinya dalam menjawab tantangan perubahan iklim dan keberlanjutan produksi pertanian.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Andri Prima Nugroho menyampaikan plenary presentation berjudul “Translating Plant Physiological Insights into Data-Driven Precision Agriculture”. Presentasi disampaikan secara hybrid melalui pemaparan yang telah direkam dan dilanjutkan dengan sesi diskusi secara langsung bersama peserta konferensi.

Melalui presentasinya, Dr. Andri menjelaskan bahwa informasi fisiologis tanaman memiliki peran penting dalam pengembangan pertanian presisi. Parameter seperti kandungan klorofil daun, konduktansi stomata, laju transpor elektron, dan fluoresensi klorofil dapat memberikan informasi mengenai respons tanaman terhadap kondisi lingkungan maupun tekanan yang dialaminya.
Namun, pengukuran fisiologis secara langsung di lapangan umumnya membutuhkan waktu, peralatan khusus, dan jumlah sampel yang memadai. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang dapat memperluas informasi dari pengukuran pada tingkat individu tanaman menjadi gambaran kondisi tanaman pada skala lahan.

Dr. Andri memaparkan bagaimana data fisiologi tanaman dapat diintegrasikan dengan citra multispektral yang diperoleh menggunakan unmanned aerial vehicle atau drone. Kombinasi kedua sumber data tersebut selanjutnya dianalisis melalui pemodelan berbasis data untuk mengidentifikasi variasi kondisi tanaman secara spasial dan mendukung pengambilan keputusan budidaya yang lebih tepat.
Salah satu studi kasus yang disampaikan adalah pengembangan sistem evaluasi kesehatan tanaman pepaya menggunakan citra multispektral dari wahana udara tanpa awak tipe vertical take-off and landing (VTOL). Data citra udara dikombinasikan dengan hasil pengukuran fisiologis di lapangan untuk membangun model prediktif kondisi tanaman.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa teknologi penginderaan jauh tidak hanya digunakan untuk menghasilkan citra lahan, tetapi dapat dikembangkan sebagai alat untuk menerjemahkan respons biologis tanaman menjadi informasi yang lebih mudah dipetakan dan digunakan. Dengan demikian, kondisi tanaman yang awalnya diamati melalui pengukuran titik dapat dikembangkan menjadi informasi spasial untuk membantu menentukan area yang membutuhkan perhatian atau intervensi lebih lanjut.
Dalam paparannya, Dr. Andri juga memperkenalkan Smart Agriculture Research Center UGM sebagai pusat riset yang mengembangkan dan mengadaptasi teknologi pertanian presisi untuk karakteristik pertanian tropis. Berbagai kegiatan penelitian dikembangkan melalui integrasi sensor, Internet of Things, citra drone, kecerdasan buatan, sistem pendukung keputusan, serta pengetahuan agronomi dan fisiologi tanaman.
Pengembangan teknologi di Smart Agriculture Research Center UGM tidak hanya diarahkan pada kecanggihan perangkat. Teknologi perlu dibangun berdasarkan kebutuhan lapangan, divalidasi menggunakan data aktual, dan diterjemahkan menjadi rekomendasi yang dapat dipahami serta digunakan oleh petani, pengelola lahan, maupun pengambil keputusan.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan pertanyaan seputar penerapan teknologi pencitraan pada kawasan perkebunan, implementasi hasil penelitian dalam kondisi lapangan, pemilihan parameter fisiologi tanaman, serta pengembangan dan validasi model prediktif. Diskusi tersebut memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas bidang antara fisiologi tanaman, teknik pertanian, penginderaan jauh, dan ilmu data.
Partisipasi Dr. Andri Prima Nugroho sebagai plenary speaker pada MSPPC 2026 memperkuat kontribusi UGM dalam pengembangan pertanian presisi dan smart agriculture pada tingkat internasional. Kegiatan ini juga membuka peluang kolaborasi antara UGM dan komunitas peneliti fisiologi tanaman, khususnya dalam mengembangkan teknologi pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim dan sesuai dengan karakteristik pertanian tropis.
Dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Keterlibatan UGM dalam The 36th Malaysian Society of Plant Physiology Conference ini mendukung sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu:
– SDG 2: Tanpa Kelaparan (Zero Hunger)
Pengembangan pertanian presisi berbasis kondisi fisiologis tanaman mendukung peningkatan produktivitas, efisiensi penggunaan input, dan keberlanjutan produksi pangan.
– SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education)
Forum ilmiah internasional ini menjadi sarana pertukaran pengetahuan dan penguatan kompetensi akademisi, peneliti, mahasiswa, serta praktisi dalam bidang fisiologi tanaman dan teknologi pertanian.
– SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur (Industry, Innovation, and Infrastructure)
Integrasi sensor, citra drone, pengolahan data, dan pemodelan prediktif mendorong pengembangan inovasi serta infrastruktur digital untuk mendukung transformasi sektor pertanian.
– SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim (Climate Action)
Pemantauan respons fisiologis tanaman dan kondisi lahan secara lebih presisi membantu mengembangkan strategi produksi pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim.
– SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals)
Pertemuan ilmiah ini memperkuat jejaring dan peluang kolaborasi internasional antara UGM, Malaysian Society of Plant Physiology, serta para peneliti dan praktisi dari berbagai institusi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan integrasi antara ilmu fisiologi tanaman, teknologi penginderaan, dan analisis data dapat terus dikembangkan menjadi solusi pertanian presisi yang tidak hanya kuat secara ilmiah, tetapi juga aplikatif, berkelanjutan, dan mampu menjawab tantangan pertanian tropis di tengah perubahan iklim.
