
Bali, 31 Juli 2026 — Dr. Andri Prima Nugroho, S.T.P., M.Sc., Ph.D., dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada sekaligus peneliti Smart Agriculture Research Center UGM, berpartisipasi dalam The 7th International Conference on Environmental Engineering (ICOEE 2026). Konferensi bertema “Engineering Solutions for Environmental Resilience in a Changing World” tersebut diselenggarakan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama sejumlah perguruan tinggi mitra di Bintang Bali Resort, Kuta, Bali, pada 30–31 Juli 2026.
ICOEE 2026 menjadi forum ilmiah internasional bagi akademisi, peneliti, praktisi, dan pemangku kepentingan untuk bertukar gagasan mengenai berbagai solusi rekayasa dalam menghadapi perubahan iklim dan persoalan lingkungan. Konferensi ini juga diarahkan untuk memperkuat jejaring akademik, kolaborasi riset lintas negara, serta pengembangan solusi lingkungan yang lebih adaptif dan berbasis bukti.

Dalam konferensi tersebut, Dr. Andri mempresentasikan penelitian berjudul “A Web-Based Decision Support System for Multi-Parameter Air Quality Management in an Agro-Industrial Village.” Makalah tersebut dipresentasikan dalam tema Environmental Instrumentation, Modelling, and Decision Support Systems, yang mencakup instrumentasi lingkungan, pemodelan, kecerdasan buatan, Internet of Things, serta sistem pendukung keputusan bagi kebijakan lingkungan.
Penelitian ini berangkat dari persoalan sistem pemantauan kualitas udara di kawasan agroindustri perdesaan yang umumnya baru menghasilkan data mentah dari sensor, tetapi belum dilengkapi mekanisme analisis untuk mendukung pengambilan keputusan. Kondisi tersebut dijumpai di Desa Sambak, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang merupakan salah satu desa binaan Program Kampung Iklim atau ProKlim dan memiliki sejumlah industri tahu skala rumah tangga.
Aktivitas pembakaran menggunakan kayu dan pengelolaan limbah cair organik pada industri tahu berpotensi menghasilkan partikulat, karbon dioksida, dan metana. Untuk meningkatkan kebermanfaatan data pemantauan, tim peneliti mengembangkan DSS Air Quality, yaitu sistem pendukung keputusan berbasis web yang mampu mengolah data sensor menjadi informasi kategori kualitas udara, peringatan, dan rekomendasi sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Sistem tersebut mengintegrasikan sejumlah rujukan penilaian kualitas udara dan keselamatan, yaitu Indeks Standar Pencemar Udara berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.14 Tahun 2020 untuk PM₂.₅ dan PM₁₀, ambang rujukan berbasis WHO untuk CO₂, serta rujukan NIOSH yang digunakan dalam penelitian untuk mengevaluasi konsentrasi CH₄. Sistem juga dilengkapi algoritma interpolasi linear dengan batas toleransi kehilangan data sebesar 25 persen agar proses analisis tetap dapat dilakukan ketika terjadi gangguan pembacaan sensor.

DSS Air Quality dirancang untuk empat kelompok pengguna, yaitu administrator, perangkat pemerintah, pemilik usaha, dan masyarakat umum. Dengan pembagian hak akses tersebut, informasi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sesuai peran masing-masing, mulai dari pengelolaan data hingga pemantauan kondisi lingkungan dan penyampaian rekomendasi.
Validasi sistem dilakukan menggunakan data sensor selama 78 hari, dari Juli hingga September 2024, pada industri tahu milik Pak Kosim di Desa Sambak. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi PM₂.₅, PM₁₀, dan CO₂ selama periode pengamatan masih berada dalam kategori aman berdasarkan acuan yang digunakan dalam penelitian. Namun, sistem mendeteksi konsentrasi CH₄ yang melampaui nilai rujukan, dengan konsentrasi awal mencapai 2.283,82 ppm atau sekitar 2,28 kali ambang 1.000 ppm yang digunakan dalam studi.
Pemantauan lebih lanjut menunjukkan bahwa peningkatan CH₄ berlangsung secara persisten sepanjang periode pengamatan. Kondisi ini diduga berkaitan dengan proses dekomposisi anaerobik limbah cair tahu yang berlangsung terus-menerus. Analisis pola harian juga memperlihatkan bahwa konsentrasi CH₄ tetap tinggi pada berbagai waktu dalam siklus produksi, sehingga mengindikasikan adanya risiko paparan yang bersifat struktural dan bukan sekadar kejadian sesaat.
Selain validasi algoritma, penelitian ini mengevaluasi kemudahan penggunaan sistem melalui metode System Usability Scale kepada 14 responden dari beberapa kelompok pengguna. Pengujian menghasilkan skor 72,68, yang termasuk kategori acceptable, Grade B−, dengan penilaian adjektif “Good”. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sistem telah cukup mudah digunakan, meskipun masih terbuka peluang pengembangan antarmuka, panduan penggunaan, dan rekomendasi yang lebih kontekstual.
Presentasi tersebut memperoleh tanggapan dan masukan dari Prof. Dr. Sadhan Kumar Ghosh, salah satu plenary speaker ICOEE 2026. Prof. Ghosh merupakan Direktur Jenderal dan Distinguished Professor pada Sustainable Development and Circular Economy Research Centre, International Society of Waste Management, Air and Water (ISWMAW), India, serta mantan Dekan Fakultas Teknik dan Teknologi dan mantan Profesor serta Kepala Departemen Teknik Mesin Jadavpur University, India.
Dalam sesi diskusi, Prof. Ghosh memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan DSS Air Quality dan mendorong agar sistem tersebut diperkuat melalui kajian yang lebih komprehensif terhadap standar internasional kualitas udara. Masukan ini menjadi penting untuk memperluas relevansi sistem, memperkuat dasar penentuan ambang dan rekomendasi, serta membuka peluang penerapan DSS pada wilayah dan karakteristik agroindustri yang berbeda.
Dr. Andri menyampaikan bahwa partisipasi dalam konferensi ini memberikan kesempatan untuk memperoleh perspektif lintas disiplin mengenai pengembangan teknologi pemantauan dan pengambilan keputusan lingkungan.
“Masukan dari para pakar menjadi bagian penting dalam penyempurnaan DSS Air Quality, khususnya untuk memperkuat keterkaitan antara data sensor, standar kualitas udara, dan rekomendasi yang dapat diterapkan oleh pemerintah desa, pelaku usaha, serta masyarakat,” jelas Andri.
Keikutsertaan dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem UGM dalam ICOEE 2026 diharapkan dapat memperluas kontribusi bidang teknik pertanian dan biosistem dalam menjawab persoalan lingkungan di kawasan agroindustri. Selain memperkuat jejaring akademik internasional, forum ini diharapkan membuka peluang kolaborasi riset dalam pengembangan sistem pemantauan lingkungan, sensor berbasis IoT, analitik data, dan sistem pendukung keputusan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Pengembangan DSS Air Quality juga mencerminkan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam mengelola dampak lingkungan agroindustri. Teknologi tidak hanya diarahkan untuk mengumpulkan data, tetapi juga untuk menerjemahkan data tersebut menjadi informasi dan rekomendasi yang dapat mendukung tindakan nyata di tingkat lokal.
Kegiatan penelitian dan keikutsertaan dalam konferensi ini terlaksana atas dukungan Yanmar Environmental Sustainability Support Association (YESSA), Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Smart Agriculture Research Center UGM, serta Pemerintah Desa Sambak, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. Dukungan tersebut mencakup pengembangan sistem, pelaksanaan penelitian lapangan, hingga fasilitasi diseminasi hasil penelitian dalam forum ilmiah internasional.
